Panggilan laut ternyata lebih nyaring di kuping Khairuddin, sehingga selama sepuluh tahun berikutnya ia lebih banyak berjuang di laut. Dengan armada “bajak laut”-nya, ia merupakan kombinasi maut dengan Sultan Sulaiman, yang naik takhta pada 1520. Khairuddin berhasil menyelamatkan 70.000 pengungsi muslim dari Andalusia dengan mengirimkan 36 armada kapal yang berlayar bolak balik Aljazair-Andalusia sebanyak tujuh kali.
Ini berarti ia berhasil menghalau tentara Spanyol di bawah pimpinan Raja Charles V di negerinya sendiri. Reconquista praktis tak berdaya di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan Turki; meski di negeri-negeri muslim yang jauh dengan Turki sukses, seperti di India, Malaya, dan Nusantara. Baru pada 1529, ia kembali memimpin secara langsung negeri itu dan berhasil merebut Pulau Penon.
Meski gagal menaklukkan kota Wina di Austria, dengan pergerakannya itu Sulaiman I berhasil menguras tenaga Eropa, sehingga gentar menghadapi armada Turki. Khairuddin Barbarossa sendiri juga berhasil menancapkan kukunya di laut Mediterania dan memberikan kerugian yang besar bagi perekonomian Eropa, karena itu Sultan Sulaiman pada 1534 mengangkatnya sebagai panglima tertinggi Angkatan Laut Turki Utsmani yang disandangnya hingga wafat pada 1546.
Dengan menyandang pangkat itu, pada Juli 1534 Barbarossa mengadakan show of force di laut. Ia menggiring armada Turki ke Tunisia melewati Selat Messina yang memisahkan Italia dan Sicilia sepanjang 32 km, dan menyerang beberapa pelabuhan yang dilewati. Kehadirannya ke Tunisia untuk membebaskan negeri itu dari kekuasaan Rraja Hasan bin Muhammad, yang menggulingkan dinasti Hafash pimpinan Rasyid, atas bantuan Spanyol. Usaha ini berjalan sukses dan menempatkan lagi Rasyid ke tampuk kekuasaan. Namun setahun kemudian giliran Barbarossa yang tak mampu mempertahankan Tunisia, karena peperangan yang tak seimbang.
Walau demikian, kekalahan di Tunisia bukan berati kiamat bagi Barbarossa. Ia terus membayang-bayangi Spanyol dengan merebut Puerto de Mahon di sebelah selatan Barcelona pada 1535. Kemudian mengarungi Selat Gibraltar alias Jabal Tharik, serta merebut kapal-kapal Spanyol dan Portugis yang membawa emas dan perak dari Amerika, yang baru mereka temukan. Pada 1537, Turki berhasil menguasai wilayah Morea (Poleponnisos) dan Dalmatia. Pada September 1538, ia berhasil secara gemilang memenangkan pertempuran di Preveza, di mulut Teluk Actium. Armada Spanyol mengerahkan 600 kapal, sementara kekuatan Barbarossa hanya sepertiganya.
Pertempuran Preveza konon merupakan perang laut terbesar pada masanya. Setahun kemudian, lagi-lagi Turki dan Barbarossa berhasil menunjukkan keunggulannya atas Spanyol dengan menyerang pesisir selatan negeri itu, serta mengumpulkan pampasan perang. Usaha Charles V merebut Aljazair pada 1541 juga mengalami kegagalan yang menyakitkan. Selain menghadapi ketangguhan rakyat Aljazair, ia juga harus menerima pil pahit. Dua pertiga kekuatannya diluluhlantakkan oleh badai dan gelombang, sehingga menewaskan ribuan awak kapalnya.
Tugas Barbarossa tidak berhenti sampai di situ. Pada 1543, kota Nice, Prancis, telah menunggunya untuk dibebaskan dari kekuasaan Duke of Savoy yang berkolaborasi dengan Charles V. Tugas itu diselesaikan dengan baik pada 20 Agustus 1543. Setelah itu bersama armadanya ia menetap di Toulon selama musim dingin.
Berikutnya adalah Genoa. Di kota ini, salah seorang ajudannya, Turgut Reis, mendekam dalam penjara selama tiga tahun. Saat penaklukan Pulau Malta dari tangan Knight of St. John pada 1565, ia gugur dan dimakamkan di kota Trablusgarb. Di samping makamnya dibangun masjid dan madrasah atas namanya. Barbarossa sendiri wafat pada 1546 dan dikubur di Istanbul.
Kelak, Tunisia kembali ke tangan Turki pada 1574, 28 tahun setelah wafatnya Barbarossa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar