Kamis, 06 Oktober 2016

Mengenal Barbarossa (3/4)

     Situasi global saat itu adalah terjadinya reconquista alias penaklukan kembali Andalusia oleh orang-orang Spanyol, yang tadinya selama dua abad telah menjadi pusat peradaban Arab di bawah kendali Turki. Semangat reconquista ini telah menuntun armada Spanyol ke Afrika Utara, karena sebagian besar orang Islam yang diusir secara besar-besaran dari Andalusia itu melarikan diri dan menyebar ke negara-negara di kawasan Afrika Utara, sebagai wilayah yang paling dekat dengan Spanyol.

    Semenanjung Iberia, yang meliputi Alhambra dengan Masjid Cordoba, tinggal kenangan. Masjid itu telah disulap menjadi gereja besar alias katedral. Peradaban Islam sudah melampaui titik kulminasinya dan sedang menuruni tampuk peradabannya. Dalam kondisi titik balik semacam itulah Khizr ed-Din alias Khairuddin tumbuh sebagai pemuda.

    Pengaruh semangat reconquista Spanyol itu jelas sangat buruk bagi keamanan lalu lintas laut di sekitar Turki. Daulah Utsmani kemudian menunjuk Arouj untuk mengamankan lalu lintas laut bagi kapal-kapal dagang yang berseliweran hingga pantai Yunani. Untuk itu, ia dilengkapi dengan sebuah kapal perang bersenjata lengkap, yang kelak menjadi modal kedua bersaudara itu dalam menghalau ancaman armada Spanyol dan Portugis. Mereka melabrak kapal-kapal Kristen yang hilir mudik di perairan Laut Tengah.
   Berkat bimbingan sang kakak, Khairuddin tumbuh menjadi tokoh yang diharapkan bangsanya. Didukung oleh momen yang tepat, ia tampil sebagai pahlawan negerinya. Apalagi ketika Arouj kemudian meninggal bersama seluruh pasukannya dalam suatu peperangan di Tlemcen (Tilmisan) yang berdekatan dengan Maroko pada 1518. Agaknya orang-orang Spanyol berhasil menghasut penduduk kota itu yang notabene pendukung Arouj, sehingga mereka mengepung dan menghabisi Arouj bersama tentaranya, yang mati sebagai syuhada.
     Khairuddin, yang ditunjuk Arouj untuk sementara menggantikan dirinya memimpin Algier ketika akan berangkat ke Tlencem, dengan sendirinya mengambil alih pimpinan. Sejauh itu Barbarossa Bersaudara masih merupakan pejuang “swasta murni” yang bermodalkan keberanian, kepemimpinan, serta bakat yang dimanfaatkan secara maksimal.
       Pada awal abad ke-16, dunia Islam dan Kristen sama-sama dalam keadaan terpecah. Turki Utsmani bangun dari puing-puing bekas kekuasaan Kekaisaran Byzantium yang berpusat di Istanbul alias Constantinopel, berhadapan dengan Spanyol, yang baru saja meruntuhkan peradaban Islam di Andalusia. Masing-masing pihak sedang saling menggalang persatuan di wilayah-wilayah seiman yang tercerai berai sambil saling terus memberikan ancaman dan hantaman. Turki Utsmani belum mempunyai pijakan di Afrika Utara sampai mereka berhasil memasukkan Mesir ke dalam wilayah kekuasaannya pada 1517 di bawah Sultan Salim.
    Dalam hal ini Khairuddin berhasil menyatukan sebagian wilayah Maghribi, terutama Aljazair  ke dalam Turki. Sebelum itu, Aljazair berada di bawah kekuasaan dinasti Zayyanid, Maroko di bawah dinasti Marinid, dan Tunisia di bawah dinasti Hafsid (Hafash), yang kemudian ditaklukkan Spanyol (Algier) dan Portugis (Maroko).
      Beberapa wilayah pelabuhan di pesisir utara Aljazair dikuasainya pada 1516 dari tangan Spanyol. Sejak itu sampai 1518, Arouj menjadi penguasa Aljazair; sementara Spanyol bertahan di benteng mereka di Pulau Penon, hingga pulau itu direbut Khairuddin pada 1529.

Kombinasi Maut

 Sepeninggal Arouj, Khairuddin berhasil mengusir 20.000 tentara Spanyol yang dikirim untuk mengepung Aljazair, sehingga rakyat Aljazair mendaulatnya untuk tetap tinggal di sana, meski ia bersikeras kembali ke lautan lantaran penguasa Tunisia tidak lagi mendukungnya. Namun berkat bantuan Sultan Salim dari Turki, rakyat Aljazair berhasil “mempertahankan” Khairuddin dengan status wakil Turki di negeri itu. Peristiwa ini  terjadi pada 1519. Dengan demikian, Khairuddin mempunyai pijakan yang kukuh untuk menghadapi musuh-musuhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar