Barbarossa I (wafat 1518) beberapa tahun mengabdi kepada Sultan Mamluk dari Mesir sebelum pergi ke Tunisia. Nama sebenarnya adalah Horush atau Arouj atau Koruk. Bersama saudaranya, Khizr, ia menaklukkan Algier selatan pada 1514, sesekali membantu para penguasa setempat melawan armada Spanyol dan sesekali memusuhi mereka untuk kepentingannya sendiri. Ia terbunuh oleh tentara Spanyol di Rio Salado, Algier, ketika berusaha menangkap Tlemcen.
Barbarossa II (wafat 1546) kemudian mengambil alih posisi kakaknya. Namanya Khizr atau Khair ed-Din. Ia diangkat oleh Sultan Salim dari Turki menjadi wakil penguasa di Afrika Utara, dan pada 1533 diangkat sebagai panglima oleh Sultan Sulaiman I dari Turki. Tahun berikutnya ia menguasai Tunisia, tapi dua tahun kemudian diusir oleh kekuatan dari dalam. Pada 1538 ia berhasil membalas kekalahan itu di Actium. Baru pada 1541 ia bisa mengontrol seluruh laut Mediterania selama tiga tahun. Pada 5 Juli 1546 ia wafat di Constantinopel atau Istanbul, Turki.
Tidak jelas di mana tempat lahir kakak-beradik Barbarossa ini. Sejarah mencatat tempat kelahiran Khizr, di sebuah pulau kecil bernama Lesbos, Turki, yang sebelumnya merupakan wilayah Yunani. Ketika pulau ini ditaklukkan Sultan Turki Muhammad al-Fatih dari tangan Yunani pada 1462, banyak mantan anggota pasukan sipahi, veteran laskar Utsmaniyah, menetap di pulau ini, termasuk Ya’cub bin Yusuf. Setelah menikah dengan seorang wanita penduduk asli pulau itu, ia membuka usaha sebuah rumah makan di tepi pantai pulau tersebut. Ternyata usahanya banyak diminati para pelaut yang berlabuh di situ dan berkembang sukses. Pasangan ini dikaruniai empat orang anak lelaki: Ishak, Arouj, Khizr, dan Ilyas.
Di tangan orang-orang Yunani, pulau Lesbos menjadi tempat terjadinya penyimpangan seks sesama lelaki. Namun, di tangan orang-orang Turki, pulau ini menjadi tempat lahirnya mujahid besar, Arouj dan Khizr ed-Din alias Khairuddin, yang oleh lawan-lawan mereka, orang-orang Spanyol dan Portugis, diubah menjadi Barbarossa, yang artinya si Jenggot Merah.
Jiwa kemiliteran yang diwarisi dari sang ayah dan alam pantai yang penuh tantangan, tempat mereka dibesarkan, serta pergaulannya dengan para pelaut yang singgah ke rumah makan ayahnya, telah membekali sifat petualangan yang berkobar di dadanya. Apalagi, kala itu Turki dikenal sebagai negara maritim dengan armada lautnya yang cukup tangguh dan modern, didukung dana yang tidak kecil, menjadikan negeri itu amat disegani, baik di tingkat regional maupun internasional.
Tak mengherankan bila situasi semacam itu melahirkan anak-anak bangsa yang tangguh dan pantas dibanggakan, termasuk Barbarossa Bersaudara.
Awal Perjuangan
Karier Arouj sebagai tentara Turki cukup cemerlang. Awalnya ia hanyalah seorang pedagang biasa yang berlayar di seputar perairan laut Yunani. Pada suatu hari kapalnya diserang ordo militer Kristen St. John of Jerussalem atau Knight of Rhodes dan ditahan untuk dimintai tebusan. Rupanya peristiwa yang merenggut nyawa adiknya, Ilyas, itu menumbuhkan semangat balas dendam yang tidak bisa dibendung lagi. Dengan caranya sendiri, ia kemudian berhasil meloloskan diri dari tahanan dan bertekad untuk menyerang kapal-kapal Kristen.
Kedua bersaudara itu di mata orang-orang Spanyol dan Portugis dianggap sebagai perompak alias bajak laut dan bersifat kriminal. Di lain pihak, aksi-aksi itu mendapat simpati dari teman-temannya para pedagang. Dan pada gilirannya, dari daulah Utsmani dan negara-negara di sepanjang pantai Afrika Utara yang menjadi sasaran orang-orang Kristen Eropa itu. Hal itu membuka terjadinya kerja sama di antara Barbarossa dan negara-negara itu, sehingga keberadaannya di laut Mediterania semakin kukuh. Aksi-aksi mereka kemudian meluas tak hanya balas dendam pribadi, melainkan menyerang musuh-musuh Islam, yaitu orang-orang Kristen Eropa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar