Sabtu, 29 Oktober 2016

Perang Padri (2/2)

Keterlibatan Belanda dlm perang karena diundang oleh kaum Adat, & campur tangan Belanda dlm perang itu ditandai dengan penyerangan Simawang & Sulit Air oleh pasukan Kapten Goffinet & Kapten Dienema pada bulan April 1821 atas perintah Residen James du Puy di Padang. Kemudian pada 8 Desember 1821 datang tambahan pasukan yg dipimpin oleh Letnan Kolonel Raaff untuk memperkuat posisi pada kawasan yg telah dikuasai tersebut. Pada tanggal 4 Maret 1822, pasukan Belanda dibawah pimpinan Letnan Kolonel Raaff berhasil memukul mundur Kaum Padri keluar dari Pagaruyung. Kemudian Belanda membangun benteng pertahanan di Batusangkar dengan nama Fort Van der Capellen, sedangkan Kaum Padri menyusun kekuatan & bertahan di Lintau. Pada tanggal 10 Juni 1822 pergerakan pasukan Raaff di Tanjung Alam dihadang oleh Kaum Padri, namun pasukan Belanda dapat terus melaju ke Luhak Agam. Pada tanggal 14 Agustus 1822 dlm pertempuran di Baso, Kapten Goffinet menderita luka berat kemudian meninggal dunia pada 5 September 1822. Pada bulan September 1822 pasukan Belanda terpaksa kembali ke Batusangkar karena terus tertekan oleh serangan Kaum Padri yg dipimpin oleh Tuanku Nan Renceh.

Setelah mendapat tambahan pasukan pada 13 April 1823, Raaff mencoba kembali menyerang Lintau, namun Kaum Padri dengan gigih melakukan perlawanan, sehingga pada tanggal 16 April 1823 Belanda terpaksa kembali ke Batusangkar. Sementara pada tahun 1824 Yang Dipertuan Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah kembali ke Pagaruyung atas permintaan Letnan Kolonel Raaff, namun pada tahun 1825 Sultan Arifin Muningsyah raja terakhir Minangkabau ini wafat & kemudian dimakamkan di Pagaruyung. Sedangkan Raaff sendiri meninggal dunia secara mendadak di Padang pada tanggal 17 April 1824 sesudah sebelumnya mengalami demam tinggi. Sementara pada bulan September 1824, pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor Frans Laemlin telah berhasil menguasai beberapa kawasan di Luhak Agam di antaranya Koto Tuo & Ampang Gadang. Kemudian mereka juga telah menduduki Biaro & Kapau, namun karena luka-luka yg dideritanya di bulan Desember 1824, Laemlin meninggal dunia di Padang.

Perdamaian & Perjanjian Masang
Perlawanan yg dilakukan oleh Kaum Padri cukup tangguh sehingga sangat menyulitkan Belanda untuk menundukkannya. Oleh sebab itu Belanda melalui residennya di Padang mengajak pemimpin Kaum Padri yg waktu itu telah dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol untuk berdamai dengan maklumat “Perjanjian Masang” pada tanggal 15 November 1825. Hal ini dimaklumi karena disaat bersamaan Pemerintah Hindia-Belanda juga kehabisan dana dlm menghadapi peperangan lain di Eropa & Jawa seperti Perang Diponegoro. Selama periode gencatan senjata, Tuanku Imam Bonjol mencoba memulihkan kekuatan & juga mencoba merangkul kembali Kaum Adat. Sehingga akhirnya muncul suatu kompromi yg dikenal dengan nama “Plakat Puncak Pato” di Bukit Marapalam, Kabupaten Tanah Datar yg mewujudkan konsensus bersama Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah yg artinya adat Minangkabau berlandaskan kepada agama Islam, sedangkan agama Islam berlandaskan kepada Al-Qur’an.

Perang Padri (1/2)

Perang Padri dilatarbelakangi oleh kepulangan tiga orang Haji dari Mekkah sekitar tahun 1803, yaitu Haji Miskin, Haji Sumanik & Haji Piobang yg ingin memperbaiki syariat Islam yg belum sempurna dijalankan oleh masyarakat Minangkabau. Mengetahui hal tersebut, Tuanku Nan Renceh sangat tertarik lalu ikut mendukung keinginan ketiga orang Haji tersebut bersama dengan ulama lain di Minangkabau yg tergabung dlm Harimau Nan Salapan. Harimau Nan Salapan kemudian meminta Tuanku Lintau untuk mengajak Yang Dipertuan Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah beserta Kaum Adat untuk meninggalkan beberapa kebiasaan yg bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Dalam beberapa perundingan tak ada kata sepakat antara Kaum Padri dengan Kaum Adat. Seiring itu beberapa nagari dlm Kerajaan Pagaruyung bergejolak, puncaknya pada tahun 1815, Kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang Kerajaan Pagaruyung & pecahlah peperangan di Koto Tangah. Serangan ini menyebabkan Sultan Arifin Muningsyah terpaksa menyingkir & melarikan diri dari ibu kota kerajaan. Dari catatan Raffles yg pernah mengunjungi Pagaruyung pada tahun 1818, menyebutkan bahwa ia hanya mendapati sisa-sisa Istana Kerajaan Pagaruyung yg sudah terbakar. Perang Padri ialah peperangan yg berlangsung di Sumatera Barat & sekitarnya terutama di kawasan Kerajaan Pagaruyung dari tahun 1803 sampai 1838.

Perang ini merupaken peperangan yg pada awalnya akibat pertentangan dlm masalah agama sebelum berubah menjadi peperangan melawan penjajahan. Perang Padri dimulai dengan munculnya pertentangan sekelompok ulama yg dijuluki sebagai Kaum Padri terhadap kebiasaan-kebiasaan yg marak dilakukan oleh kalangan masyarakat yg disebut Kaum Adat di kawasan Kerajaan Pagaruyung & sekitarnya. Kebiasaan yg dimaksud seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat, minuman keras, tembakau, sirih, & juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan, serta longgarnya pelaksanaan kewajiban ritual formal agama Islam. Tidak adanya kesepakatan dari Kaum Adat yg padahal telah memeluk Islam untuk meninggalkan kebiasaan tersebut memicu kemarahan Kaum Padri, sehingga pecahlah peperangan pada tahun 1803.

Hingga tahun 1833, perang ini dapat dikatakan sebagai perang saudara yg melibatkan sesama Minang & Mandailing. Dalam peperangan ini, Kaum Padri dipimpin oleh Harimau Nan Salapan sedangkan Kaum Adat dipimpinan oleh Yang Dipertuan Pagaruyung waktu itu Sultan Arifin Muningsyah. Kaum Adat yg mulai terdesak, meminta bantuan kepada Belanda pada tahun 1821. Namun keterlibatan Belanda ini justru memperumit keadaan, sehingga sejak tahun 1833 Kaum Adat berbalik melawan Belanda & bergabung bersama Kaum Padri, walaupun pada akhirnya peperangan ini dapat dimenangkan Belanda. Perang Padri termasuk peperangan dengan rentang waktu yg cukup panjang, menguras harta & mengorbankan jiwa raga. Perang ini selain meruntuhkan kekuasaan Kerajaan Pagaruyung, juga berdampak merosotnya perekonomian masyarakat sekitarnya & memunculkan perpindahan masyarakat dari kawasan konflik.

Bantuan Belanda Kepada Kaum Adat Pimpinan Sultan Tangkal Alam Bagagar
Karena terdesak dlm peperangan & keberadaan Yang Dipertuan Pagaruyung yg tak pasti, maka Kaum Adat yg dipimpin oleh Sultan Tangkal Alam Bagagar meminta bantuan kepada Belanda pada tanggal 21 Februari 1821, walaupun sebetulnya Sultan Tangkal Alam Bagagar waktu itu dianggap tak berhak membuat perjanjian dengan mengatasnamakan Kerajaan Pagaruyung. Akibat dari perjanjian ini, Belanda menjadikannya sebagai tanda penyerahan Kerajaan Pagaruyung kepada pemerintah Hindia-Belanda, kemudian mengangkat Sultan Tangkal Alam Bagagar sebagai Regent Tanah Datar.

Kamis, 06 Oktober 2016

Mengenal Barbarossa (3/4)

     Situasi global saat itu adalah terjadinya reconquista alias penaklukan kembali Andalusia oleh orang-orang Spanyol, yang tadinya selama dua abad telah menjadi pusat peradaban Arab di bawah kendali Turki. Semangat reconquista ini telah menuntun armada Spanyol ke Afrika Utara, karena sebagian besar orang Islam yang diusir secara besar-besaran dari Andalusia itu melarikan diri dan menyebar ke negara-negara di kawasan Afrika Utara, sebagai wilayah yang paling dekat dengan Spanyol.

    Semenanjung Iberia, yang meliputi Alhambra dengan Masjid Cordoba, tinggal kenangan. Masjid itu telah disulap menjadi gereja besar alias katedral. Peradaban Islam sudah melampaui titik kulminasinya dan sedang menuruni tampuk peradabannya. Dalam kondisi titik balik semacam itulah Khizr ed-Din alias Khairuddin tumbuh sebagai pemuda.

    Pengaruh semangat reconquista Spanyol itu jelas sangat buruk bagi keamanan lalu lintas laut di sekitar Turki. Daulah Utsmani kemudian menunjuk Arouj untuk mengamankan lalu lintas laut bagi kapal-kapal dagang yang berseliweran hingga pantai Yunani. Untuk itu, ia dilengkapi dengan sebuah kapal perang bersenjata lengkap, yang kelak menjadi modal kedua bersaudara itu dalam menghalau ancaman armada Spanyol dan Portugis. Mereka melabrak kapal-kapal Kristen yang hilir mudik di perairan Laut Tengah.
   Berkat bimbingan sang kakak, Khairuddin tumbuh menjadi tokoh yang diharapkan bangsanya. Didukung oleh momen yang tepat, ia tampil sebagai pahlawan negerinya. Apalagi ketika Arouj kemudian meninggal bersama seluruh pasukannya dalam suatu peperangan di Tlemcen (Tilmisan) yang berdekatan dengan Maroko pada 1518. Agaknya orang-orang Spanyol berhasil menghasut penduduk kota itu yang notabene pendukung Arouj, sehingga mereka mengepung dan menghabisi Arouj bersama tentaranya, yang mati sebagai syuhada.
     Khairuddin, yang ditunjuk Arouj untuk sementara menggantikan dirinya memimpin Algier ketika akan berangkat ke Tlencem, dengan sendirinya mengambil alih pimpinan. Sejauh itu Barbarossa Bersaudara masih merupakan pejuang “swasta murni” yang bermodalkan keberanian, kepemimpinan, serta bakat yang dimanfaatkan secara maksimal.
       Pada awal abad ke-16, dunia Islam dan Kristen sama-sama dalam keadaan terpecah. Turki Utsmani bangun dari puing-puing bekas kekuasaan Kekaisaran Byzantium yang berpusat di Istanbul alias Constantinopel, berhadapan dengan Spanyol, yang baru saja meruntuhkan peradaban Islam di Andalusia. Masing-masing pihak sedang saling menggalang persatuan di wilayah-wilayah seiman yang tercerai berai sambil saling terus memberikan ancaman dan hantaman. Turki Utsmani belum mempunyai pijakan di Afrika Utara sampai mereka berhasil memasukkan Mesir ke dalam wilayah kekuasaannya pada 1517 di bawah Sultan Salim.
    Dalam hal ini Khairuddin berhasil menyatukan sebagian wilayah Maghribi, terutama Aljazair  ke dalam Turki. Sebelum itu, Aljazair berada di bawah kekuasaan dinasti Zayyanid, Maroko di bawah dinasti Marinid, dan Tunisia di bawah dinasti Hafsid (Hafash), yang kemudian ditaklukkan Spanyol (Algier) dan Portugis (Maroko).
      Beberapa wilayah pelabuhan di pesisir utara Aljazair dikuasainya pada 1516 dari tangan Spanyol. Sejak itu sampai 1518, Arouj menjadi penguasa Aljazair; sementara Spanyol bertahan di benteng mereka di Pulau Penon, hingga pulau itu direbut Khairuddin pada 1529.

Kombinasi Maut

 Sepeninggal Arouj, Khairuddin berhasil mengusir 20.000 tentara Spanyol yang dikirim untuk mengepung Aljazair, sehingga rakyat Aljazair mendaulatnya untuk tetap tinggal di sana, meski ia bersikeras kembali ke lautan lantaran penguasa Tunisia tidak lagi mendukungnya. Namun berkat bantuan Sultan Salim dari Turki, rakyat Aljazair berhasil “mempertahankan” Khairuddin dengan status wakil Turki di negeri itu. Peristiwa ini  terjadi pada 1519. Dengan demikian, Khairuddin mempunyai pijakan yang kukuh untuk menghadapi musuh-musuhnya.

Mengenal Barbarossa (4/4)

    Panggilan laut ternyata lebih nyaring di kuping Khairuddin, sehingga selama sepuluh tahun berikutnya ia lebih banyak berjuang di laut. Dengan armada “bajak laut”-nya, ia merupakan kombinasi maut dengan Sultan Sulaiman, yang naik takhta pada 1520. Khairuddin berhasil menyelamatkan 70.000 pengungsi muslim dari Andalusia dengan mengirimkan 36 armada kapal yang berlayar bolak balik Aljazair-Andalusia sebanyak tujuh kali.

    Ini berarti ia berhasil menghalau tentara Spanyol di bawah pimpinan Raja Charles V di negerinya sendiri. Reconquista praktis tak berdaya di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan Turki; meski di negeri-negeri muslim yang jauh dengan Turki sukses, seperti di India, Malaya, dan Nusantara. Baru pada 1529, ia kembali memimpin secara langsung negeri itu dan berhasil merebut Pulau Penon.

    Meski gagal menaklukkan kota Wina di Austria, dengan pergerakannya itu Sulaiman I berhasil menguras tenaga Eropa, sehingga gentar menghadapi armada Turki. Khairuddin Barbarossa sendiri juga berhasil menancapkan kukunya di laut Mediterania dan memberikan kerugian yang besar bagi perekonomian Eropa, karena itu Sultan Sulaiman pada 1534 mengangkatnya sebagai panglima tertinggi Angkatan Laut Turki Utsmani yang disandangnya hingga wafat pada 1546.

     Dengan menyandang pangkat itu, pada Juli 1534 Barbarossa mengadakan show of force di laut. Ia menggiring armada Turki ke Tunisia melewati Selat Messina yang memisahkan Italia dan Sicilia sepanjang 32 km, dan menyerang beberapa pelabuhan yang dilewati. Kehadirannya ke Tunisia untuk membebaskan negeri itu dari kekuasaan Rraja Hasan bin Muhammad, yang menggulingkan dinasti Hafash pimpinan Rasyid, atas bantuan Spanyol. Usaha ini berjalan sukses dan menempatkan lagi Rasyid ke tampuk kekuasaan. Namun setahun kemudian giliran Barbarossa yang tak mampu mempertahankan Tunisia, karena peperangan yang tak seimbang.

      Walau demikian, kekalahan di Tunisia bukan berati kiamat bagi Barbarossa. Ia terus membayang-bayangi Spanyol dengan merebut Puerto de Mahon di sebelah selatan Barcelona pada 1535. Kemudian mengarungi Selat Gibraltar alias Jabal Tharik, serta merebut kapal-kapal Spanyol dan Portugis yang membawa emas dan perak dari Amerika, yang baru mereka temukan. Pada 1537, Turki berhasil menguasai wilayah Morea (Poleponnisos) dan Dalmatia. Pada September 1538, ia berhasil secara gemilang memenangkan pertempuran di Preveza, di mulut Teluk Actium. Armada Spanyol mengerahkan 600 kapal, sementara kekuatan Barbarossa hanya sepertiganya.

    Pertempuran Preveza konon merupakan perang laut terbesar pada masanya. Setahun kemudian, lagi-lagi Turki dan Barbarossa berhasil menunjukkan keunggulannya atas Spanyol dengan menyerang pesisir selatan negeri itu, serta mengumpulkan pampasan perang. Usaha Charles V merebut Aljazair pada 1541 juga mengalami kegagalan yang menyakitkan. Selain menghadapi ketangguhan rakyat Aljazair, ia juga harus menerima pil pahit. Dua pertiga kekuatannya diluluhlantakkan oleh badai dan gelombang,  sehingga menewaskan ribuan awak kapalnya.

      Tugas Barbarossa tidak berhenti sampai di situ. Pada 1543, kota Nice, Prancis, telah menunggunya untuk dibebaskan dari kekuasaan Duke of Savoy yang berkolaborasi dengan Charles V. Tugas itu diselesaikan dengan baik pada 20 Agustus 1543. Setelah itu bersama armadanya ia menetap di Toulon selama musim dingin.

       Berikutnya adalah Genoa. Di kota ini, salah seorang ajudannya, Turgut Reis, mendekam dalam penjara selama tiga tahun. Saat penaklukan Pulau Malta dari tangan Knight of St. John pada 1565, ia gugur dan dimakamkan di kota Trablusgarb. Di samping makamnya dibangun masjid dan madrasah atas namanya. Barbarossa sendiri wafat pada 1546 dan dikubur di Istanbul.

   Kelak, Tunisia kembali ke tangan Turki pada 1574, 28 tahun setelah wafatnya Barbarossa. 

Mengenal Barbarossa (2/4)

     Barbarossa I (wafat 1518) beberapa tahun mengabdi kepada Sultan Mamluk dari Mesir sebelum pergi ke Tunisia. Nama sebenarnya adalah Horush atau Arouj atau Koruk. Bersama saudaranya, Khizr, ia menaklukkan Algier selatan pada 1514, sesekali membantu para penguasa setempat melawan armada Spanyol dan sesekali memusuhi mereka untuk kepentingannya sendiri. Ia terbunuh oleh tentara Spanyol di Rio Salado, Algier, ketika berusaha menangkap Tlemcen.

     Barbarossa II (wafat 1546) kemudian mengambil alih posisi kakaknya. Namanya Khizr atau Khair ed-Din. Ia diangkat oleh Sultan Salim dari Turki menjadi wakil penguasa di Afrika Utara, dan pada 1533 diangkat sebagai panglima oleh Sultan Sulaiman I dari Turki. Tahun berikutnya ia menguasai Tunisia, tapi dua tahun kemudian diusir oleh kekuatan dari dalam. Pada 1538 ia berhasil membalas kekalahan itu di Actium. Baru pada 1541 ia bisa mengontrol seluruh laut Mediterania selama tiga tahun. Pada 5 Juli 1546 ia wafat di Constantinopel atau Istanbul, Turki.

      Tidak jelas di mana tempat lahir kakak-beradik Barbarossa ini. Sejarah mencatat tempat kelahiran Khizr, di sebuah pulau kecil bernama Lesbos, Turki, yang sebelumnya merupakan wilayah Yunani. Ketika pulau ini ditaklukkan Sultan Turki Muhammad al-Fatih dari tangan Yunani pada 1462, banyak mantan anggota pasukan sipahi, veteran laskar Utsmaniyah, menetap di pulau ini, termasuk Ya’cub bin Yusuf. Setelah menikah dengan seorang wanita penduduk asli pulau itu, ia membuka usaha sebuah rumah makan di tepi pantai pulau tersebut. Ternyata usahanya banyak diminati para pelaut yang berlabuh di situ dan berkembang sukses. Pasangan ini dikaruniai empat orang anak lelaki: Ishak, Arouj, Khizr, dan Ilyas.

     Di tangan orang-orang Yunani, pulau Lesbos menjadi tempat terjadinya penyimpangan seks sesama lelaki. Namun, di tangan orang-orang Turki, pulau ini menjadi tempat lahirnya mujahid besar, Arouj dan Khizr ed-Din alias Khairuddin, yang oleh lawan-lawan mereka, orang-orang Spanyol dan Portugis, diubah menjadi Barbarossa, yang artinya si Jenggot Merah.

      Jiwa kemiliteran yang diwarisi dari sang ayah dan alam pantai yang penuh tantangan, tempat mereka dibesarkan, serta pergaulannya dengan para pelaut yang singgah ke rumah makan ayahnya, telah membekali sifat petualangan yang berkobar di dadanya. Apalagi, kala itu Turki dikenal sebagai negara maritim dengan armada lautnya yang cukup tangguh dan modern, didukung dana yang tidak kecil, menjadikan negeri itu amat disegani, baik di tingkat regional maupun internasional.

     Tak mengherankan bila situasi semacam itu melahirkan anak-anak bangsa yang tangguh dan pantas dibanggakan, termasuk Barbarossa Bersaudara.



Awal Perjuangan

       Karier Arouj sebagai tentara Turki cukup cemerlang. Awalnya ia hanyalah seorang pedagang biasa yang berlayar di seputar perairan laut Yunani. Pada suatu hari kapalnya diserang ordo militer Kristen St. John of Jerussalem atau Knight of Rhodes dan ditahan untuk dimintai tebusan. Rupanya peristiwa yang merenggut nyawa adiknya, Ilyas, itu menumbuhkan semangat balas dendam yang tidak bisa dibendung lagi. Dengan caranya sendiri, ia kemudian berhasil meloloskan diri dari tahanan dan bertekad untuk menyerang kapal-kapal Kristen.

     Kedua bersaudara itu di mata orang-orang Spanyol dan Portugis dianggap sebagai perompak alias bajak laut dan bersifat kriminal. Di lain pihak, aksi-aksi itu mendapat simpati dari teman-temannya para pedagang. Dan pada gilirannya, dari daulah Utsmani dan negara-negara di sepanjang pantai Afrika Utara yang menjadi sasaran orang-orang Kristen Eropa itu. Hal itu membuka terjadinya kerja sama di antara Barbarossa dan negara-negara itu, sehingga keberadaannya di laut Mediterania semakin kukuh. Aksi-aksi mereka kemudian meluas tak hanya balas dendam pribadi, melainkan menyerang musuh-musuh Islam, yaitu orang-orang Kristen Eropa.

Mengenal Barbarossa (1/4)

   Khairuddin Barbarossa adalah pelaut muslim terkemuka pada abad ke-16. Dia menguasai laut Mediterania, yang membentang di sepanjang pantai Afrika Utara. Namun di dalam literatur Barat, ia dianggap sebagai “bajak laut” yang menakutkan bagi setiap pelaut Kristen.

    Menyadari bahwa kekuatan armadanya jauh lebih kecil dibanding armada Spanyol pimpinan Andrea Doria yang mengerahkan 600 unit kapal perang, Barbarossa membagi kekuatannya dalam tiga eskadron tempur. Sebagai komandan ia memimpin pasukan induk di tengah dan diapit Ali Reis di eskadron sayap kiri dan Salih Reis di eskadron sayap kanan. Armada cadangan di bagian belakang dipimpin Turgut Reis. 

   Kemudian, di kegelapan malam itu juga, digiringnya armada Turki Utsmani itu keluar dari Selat Preveza sepanjang 30 km yang sempit, menuju laut terbuka Mediterania, menyongsong armada musuh yang tengah mengincar mereka. Strategi itu disusun berdasar keyakinan bahwa mereka mempunyai kelebihan dalam melakukan manuver dan jangkauan meriamnya lebih jauh.

   Rupanya manuver itu tidak diduga oleh musuh. Sebab, begitu sampai di laut lepas, ketika matahari sedang berada di depan mata, mereka kelabakan karena mendapat serangan gencar. Dalam waktu beberapa jam saja, mereka tenggelam satu per satu ke dasar laut bersama seluruh penumpangnya dan tidak mampu memberikan perlawanan. Dari tengah, sayap kiri, dan sayap kanan, meriam-meriam Barbarossa tidak henti-hentinya melemparkan amunisi yang nyaris tak terelakkan.

   Sukses itu merupakan strategi yang sangat baik yang diperlihatkan Barbarossa sebagai pelaut jempolan. Ia sengaja memancing Andrea Doria yang didukung Raja Charles V dari Spanyol agar masuk perangkapnya untuk kemudian dipepet di Selat Preveza yang sempit. Untuk itu ia lebih dulu memasuki selat sepanjang 30 km dan lebar 4 km itu, sambil mempersiapkan “serangan fajar”, dan terjadilah serangan fajar yang berlangsung pada hari Sabtu, 28 September 1538, sekitar waktu duha.

   Sukses di Preveza ini merupakan modal besar bagi armada Turki untuk memenangkan pertempuran tahun berikutnya di laut yang sama saat kembali ke Aljazair pada September 1539. Saat itu mereka baru kembali dari Spanyol dengan membawa barang-barang pampasan perang yang diperoleh di daerah pesisir selatan Spanyol. Di tengah jalan mereka diadang kapal-kapal Spanyol dan terjadilah pertempuran yang melibatkan 13 kapal perang Turki Utsmani. Spanyol menderita kerugian lebih besar lagi.

   Perang Preveza itu konon merupakan salah satu pertempuran penting dalam sejarah angkatan laut dunia. Namun cenderung dianggap remeh dalam buku-buku yang ditulis orang-orang Barat, termasuk kehebatan Barbarossa bersaudara. Britannica  Encyclopedia menyebutkan bahwa, selama 300 tahun, sejak abad ke-16 hingga 1830, tak ada kapal-kapal yang melayari laut Mediterania bakal selamat dari serangan kaum pembajak. Mereka ini dikenal sebagai Barbary lantaran sarang-sarang mereka berada di sepanjang pantai Afrika Utara, dari Mesir di timur hingga laut Atlantik di barat. Kawasan itu disebut sebagai pantai Barbary. Markas mereka berada di tiga negara, yaitu Algier, Tunisia, dan Tripoli.

   Sekadar catatan, terlepas dari sudut pandang pihak yang berbeda pendapat, dalam khazanah kosakata bahasa ada kata barbar. Kata ini, yang termasuk dalam kelas kata ajektiva atau kata sifat, bermakna “tidak beradab”.

      Siapa Barbarossa

  Barbarossa, yang ditakuti penguasa Kristen, sebetulnya bernama Khair ed-Din alias Khairuddin, orang Turki yang dikenal di Eropa sebagai si Jenggot Merah. Menurut ensiklopedia di atas, dia menggunakan Algier sebagai pusatpembajakan, menguasai laut Mediterania, dan menaklukkan Tunisia. Ketika meninggal pada 1546, ia adalah panglima Angkatan Laut Turki.

  Sedangkan Americana Encyclopedia menyebutkan, Barbarossa adalah nama yang diberikan oleh orang-orang Eropa kepada dua orang Turki, bajak laut dari Afrika Utara. Keduanya dilahirkan di Mytilene di Pulau Lesbos di Kepulauan Aegean dari ayah orang Yunani.

Rabu, 05 Oktober 2016

Puisi Al Quds

      Tanah para nabi nabi pilihan diutus
Bumi itu sangat diberkahi dan dimuliakan
Bahkan malaikat membentang kan sayapnya...

      Al Quds...

      Kini engkau telah di caplok zionis laknatullah alaih...
      Kini engkau telah di Yahudi kan secara terang terangan...

      Al Quds...

      Masalahmu bukan hanya di tanggung oleh bangsa Arab dan bangsa Palestina saja...
      Darah mu dan tetesanmu milik umat Islam...
      Ku berharap suatu saat dirimu berdiri berkibar kembali...

      Al Quds...

      Tunggu kami singa singa Muhammad akan merangkul mu...
       Dari sini kami berniat dan disana kami berkumpul...
       Biiznillah